I.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi
Seperti
telah dipaparkan dimuka baik hewan maupun manusian merupakan mahkluk yang
hidup, makhluk yang berkembang , makhluk yang aktif. Hewan dan manusia dalam
berbuat dan bertindak selain terikat oleh faktor faktor yang datang dari luar,
juga ditentukan oleh faktor faktor yang terdapat dalam diri organisme yang
bersangkutan. Oleh karena itu,
baik hewan maupun manusia dalam bertindak selain ditentukan oleh faktor luar
juga ditentukan factor dalam, yaitu berupa kekuatan yang datang dari organisme
yang bersangkutan yang mejadi pendorong dalam tindakanya. Dorongan yang datang dari dalam
untuk berbuat itu yang disebut motif. Motif berasal dari bahasa latin movere
yang berarti bergerak atau to move . Karena
itu motif diartikan sebagai kekuatan
yang terdapan dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan
driving force.
Menurut Veitzal (2009:837)
motivasiadalah merupakan
daya pendorong dalam diri
seseorang karyawan
untuk melakukan suatu
perbuatan tertentu kearah positif sesuai kebutuhan
dan keinginan.
Menurut para ahli (Suarli dan Bahtiar (2002) ; M.As’ad (2001) ; dan Stoner dan Freeman (1995) ) , motivasi adalah karakteristik psikologis pada aktifitas manusia untuk member kontribusi berupa tingkat komitmen seseorang termasuk faktor-faktor
yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan
tingkah laku manusia dalam arah
tekad tertentu
untuk mencapai keinginan.
Motivasi merupakan seluruh
dorongan , keinginan , hasrat , dan tenaga penggerak atau dorongan lainnya yang berasal dari
dalam diri individu untuk melakukan suatu tindakan . Motivasi memberi tujuan dan arah kepada perilaku
individu. (Ahmadi,2007).
Motif adalah suatu dorongan dari
dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motif tidak dapat diamati. Yang diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan tindakan tersebut (Notoatmodjo,2003).
Motif
sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling kait
mengait dengan faktor - faktor lain. Hal
hal yang dapat mempengarui motif disebut motivasi. Kalau orang ingin mengetahui
mengapa orang berbuat atau berpelaku kearah sesuatu seperti yang dikerjakan,
maka orang tersebut akan terkait dengan motifasi atau perilaku yang termotifasi
(motivated behavior). motifasi
merupakan keadaan dalam individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah
tujuan. Dengan demikian, dalam dikemukakan bahwa motivasi itu mempunyai 3 aspek
:
1.
keadaan terdorong dalam diri
organisme ( a driving state) , yaitu kesiapan bergerak karena kebutuhan .
misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan , atau karena keadaan mental seperti berpikir dan
ingatan.
2.
perilaku yang timbul dan terarah
karena keadaan ini.
3.
Goal ( tujuan yang dituju oleh perilaku
tersebut)
Motivasi
ada dalam diri manusia terdorong oleh karena adanya :
1.
Keinginan untuk hidup
2.
Keinginan untuk memiliki esuatu
3.
Keinginan akan kekuasaan
4.
Keinginan adanya pengakuan.
B. Lingkaran
Motivasi
Menurut Sabur (2003) berdasarkan pendapat Dirgagunasa karena
dilator belakangi adanya motif maka tingkah laku tersebut disebut tingkah laku bermotivasi. Tingkah laku bermotivasi itu sendiri dapat dirumuskan sebagai tingkah laku yang dilatar belakangi karena
adanya
suatu
kebutuhan. Lingkaran Motivasi terdiri dari:

Pada
umumnya motivasi mempunyai sifat siklus (melingkar), yaitu motivasi timbul,
memicu perilaku tertuju pada tujuan (Goal), dan akhirnya setelah tujuan (Goal)
tercapai, motivasi itu berhenti. Tetapi itu akan kembali ke keadaan semula
apabila ada sesuatu kebutuhan lagi.
Pada
tahap pertama timbulnya keadaan pemicu (driving state). Istilah drive dorongan
atau picu biasanya digunakan bila motif yang timbul itu berdasarkan kebutuhan
biologis dan fisiologis. Drive itu timbul karena organisme itu merasa ada
kekurangan dalam kebutuhan. Misal, orang kurang tidur, maka ia butuh tidur, dan
kebutuhan ini mendorong untuk tidur. Karena pengaruh stimulus luar.
Sudah
barang tentu tujuan akan bergantung pada motif yang ada pada diri organisme ,
kebutuhan atau motif apa saja yang sedang aktif
dalam diri organisme yang bersangkutan. Sementara tujuan bersifat
positif missal makanan , pemitraan , kesejukan udara dan sebagainya. Ini
merupakatin yang bersifat yang negn hal yang ingin dicapai dan individu atau
organisme berusaha untuk mencapainya.Namun sebaliknya ada tujuan yang bersifat
negative, yaitu tujuan yang ingin dihindari atau ditolak oleh organisme,
misalnya keadaan yang membahayakan, keadaan yang tidak menyenngkan. Keadaan
semacam ini akan dihindari atau ditolak oleh organisme.
Di muka telah dikemukakan tentang siklus motif.Siklus tersebut merupakan
siklus dasar. Untuk memahami motif pada manusia, usia dengan lebih tuntas, ada faktor lain yang berperan dalam
siklus motif tersebut yaitu faktor
kognitif. Seperti diketahui kognitif merupakan proses mental seperti berpikir,
ingatan, persepsi. Dengan berperangnya
faktor kognitif dalam
siklus motif, maka driving state dapat dipicu oleh pikiran atau ingatan. Dengan demikian maka siklus motif
menunjukan siklus yang lebih kompleks dari pada siklus yang terdahulu. Misal : seseorang ingat akan kepuaan pada waktu ia
mengikuti pertunjukan orkes dangdut (stimulus / input dari ingatan), keadaan
ini akan memberikan kesadaran bagi orang tersebut apabila mungkin akan melihat
lagi pergelaran orkes dangdut (kesadaran akan potensi kepuasan yang akan
diperoleh atau merupakan motive state). Orang tersebut kemudian mencari
informasi dimana ada orkes dangdut diadakan dan ia merencanakan akan melihatnya
(goal selection). Setelah mendapatkan
informasi maka orang pergi menonton untuk mendapatkan kepuasan.Dengan demikian
dapar dikemukakan bahwa yang tadinya hanya keadaan yang potensial, dengan pergi
melihat orkes dangdut maka orang mendapatkan kepuasan secara nyata, dan
selesailah siklus motif tersebut. Dengan berperanya siklus kognitif dalam
siklus motif akan sangat
membantu dalam memahami motivasi manusia.
C. Teori Motivasi
1.Teori
hirarki kebutuhan dari Maslow(Maslow’s
Need Hierarchy)
Teori ini dipelopori oleh Abraham Maslow dalam Robbins (2006:214) Dalam teori ini dikemukakan bahwa ada
kebutuhan internal yang sangat mempengaruhi
motivasi manusia dalam bekerja. Maslow menyatakan dalam teori
ini bahwa kebutuhan manusia itu tersusun dalam suatu hirarki dimana tingkat kebutuhan yang paling rendah adalah kebutuhan fisiologis dan tingkat yang tertinggi adalah kebutuhan
realisasi diri (self-actualization needs).
Kebutuhan- kebutuhan ini diartikan sebagai
berikut;
a.
Kebutuhan Fisiologis(fisiological needs)
Kebutuhan dasar untuk menunjang kehidupan manusia yaitu kebutuhan akan
makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan pemenuhuan kebutuhan jasmani
lain. Apabila kebutuhan
fisiologis ini
belum terpenuhi
secukupnya,
maka kebutuhan lain
tidak akan memotivasi
manusia.
b.
Kebutuhan keselamatan dan keamanan (safetyand
security needs): kebutuhan
akan kebebasan
dari
ancaman,
yakni
aman
dari ancaman kejadian atau lingkungan, rasa takut kehilangan pekerjaan dan materi.
c.
Rasa memiliki (belongingness),
sosial dan cinta:
d. Kebutuhan akan teman,
afiliasi, interaksi,
dan cinta.
d.
Kebutuhan penghargaan(esteems needs):
Kebutuhan akan penghargaan diri (merasa dirinya berharga) dan dihargai / penghargaan dari orang lain serta prestasi.
e.
Kebutuhan aktualisasi diri
(self-actualization
needs):
f.
kebutuhan untuk memenuhi diri sendiri dengan penggunaan
kemampuan
maksimum, ketrampilan dan
potensi.
2.
Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang
teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang
menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan
seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan
kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu
tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi
obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat
mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku.Mengatasi
kendala-kendala, mencapai standar tinggi.Mencapai performa puncak untuk diri
sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan
kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi
tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu :
a. sebuah preferensi untuk
mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat
b. menyukai situasi-situasi di mana
kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena
faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya;
c. menginginkan umpan balik tentang
keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi
rendah.
3.
Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan
akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf
pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R
= Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan
akan pertumbuhan)
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua
hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau
model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat
dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “
Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep
Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut
Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia
itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak
lebih lanjut akan tampak bahwa :
a.
Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin
besar pula keinginan untuk memuaskannya;
b.
Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi”
semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
c.
Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang
tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan
yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme
oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat
menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain
memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.
4.
Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi
penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal
dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor
hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah
hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti
bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene
atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti
bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam
kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional
antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan
bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan
faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang
dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan
seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh
para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi,
kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori
Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh
kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang
bersifat ekstrinsik
5.
Teori Keadilan
Inti teori ini terletak pada
pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha
yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya,
apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak
memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
a. Seorang akan berusaha memperoleh
imbalan yang lebih besar, atau
b. Mengurangi intensitas usaha yang
dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai
biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
a.
Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak
diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan,
sifat pekerjaan dan pengalamannya;
b.
Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang
kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan
sendiri;
c.
Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain
di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
d.
Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah
dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini
berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu
waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan
para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif
bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering
terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat
kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan
perpindahan pegawai ke organisasi lain.
6.
Teori penetapan tujuan (goal setting
theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa
dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
(a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian
(b) tujuan-tujuan mengatur upaya
(c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi
(d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan
rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif
tentang penetapan tujuan.
7. Teori
Victor H. Vroom (Teori Harapan )
Victor H. Vroom, dalam bukunya
yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya
sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu
hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan
bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya,
apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka
untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Dinyatakan dengan cara yang
sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan
sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan
akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya,
jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk
berupaya akan menjadi rendah.Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen
sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena
penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam
menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling
tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena
pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti
apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.
8.
Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di
muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada
kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti
sifatnya sangat subyektif.Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi
tersebut.Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa
kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari
perilaku dan tindakannya.Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang
turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.Dalam hal ini berlakulah
apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia
cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang
menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang
mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.Contoh yang sangat sederhana
ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam
waktu singkat.Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya.Pujian tersebut
berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat.
Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya
itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan
tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar
menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada
gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian
hari.Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali
mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi
indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi
negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu
datang tepat pada waktunya di tempattugas.
Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang
digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat
manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh
dengan “gaya” yang manusiawi pula.
9. Teori
Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model
motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem
motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model
tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para
pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan
imbalan dengan prestasi seseorang individu .
D.
Bentuk Motivasi
a) Motivasi ektrinsik (dari luar diri) yaitu berupa factor lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi maupun politik. Contoh : lingkungan baik teman,
keluarga atau masyarakat sekitarnya
b) Motivasi intrinsik
(dari dalam diri) yaitu karakteristik orang yang
bersangkutan yang
bersifat
givenatau bawaan. Contoh : keinginan yang timbul atau niat
untuk memberi dorongan / dukungan dalam melakukan sesuatu
E. Jenis – jenisMotivasi
Apabila
kita meninjau motivasi
dalam suatu
organisasi
dilihat dari perannya ada 2 macam, yaitu positif dan negatif.
a.Motivasi positif,
Adalah motivasi
yang menimbulkan
harapan
dan mempunyai sifat menguntungkan / menggembirakan bagi individu, misalnya: gaji, fasilitas,
karier, jaminan hari tua, jaminan kesehatan.
b.Motivasi negatif
Adalah motivasi yang menimbulkan rasa takut,misalnya: ancaman, tekanan, dan lain-lain.dibedakan menjadi empat macam, antaralain:
(1)
Motivasi instrumental;
Motivasi Instrumental merupakan
dorongan yang membuat pesertadidik belajar karena ingin mendapatkan hadiah.
(2) Motivasi sosial, peserta didik belajar untuk penyelenggarakan
tugas;
(3 ) Motivasi berprestasi;
(4 )Motivasi instrinsik.
F. Fungsi Motivasi
1.
mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan
energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan;
2.
menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan
arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya;
3.
menyeleksi perbuatanya kini menentukan
perbuatan-perbuatan
apa yang harus
dikerjakan yang
serasi guna
mencapai tujuan,
dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan
yang tidak bermanfaat
lagi bagi tujuan tersebut.
G. Tujuan Motivasi
Adapun tujuan Motivasi menurut Hasibuan (2000:145) adalah sebagai
berikut:
1. Meningkatkan moral dan kepuassan kerja karyawan
2. Meningkatkan produktivitas
kerja karyawan
3. Meningkatkan kedisiplinan karyawan
4. Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan
5. Mengefektifkan pengadaan karyawan
6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
7. Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi karyawan
8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
9. Mempertinggi
rasa tanggung jawab
karyawan terhadap tugas –
tugasnya
10. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat–alat dan bahan baku
H.Metode Motivasi
Menurut Hasibuan (2000:148), metode motivasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Metode langsung
Merupakan motivasi materiil atau nonmaterial yang diberikan secara langsung kepada seseorang untuk pemenuhan
kebutuhan dan
kepuasannya. Motivasi ini dapat diwujudkan misalnya dengan memberikan pujian, penghargaan, bonus dan piagam.
b) Metode tidak langsung
Merupakan motivasi yang berupa fasilitas dengan maksud untuk mendukung serta menunjang gairah kerja dan kelancaran tugas. Contohnya adalah dengan pemberian ruangan kerja yang nyaman, penciptaan suasana dan kondisi yang baik.
II.
KESIMPULAN
Baik hewan maupun manusian
merupakan mahkluk hidup, makhluk yang
berkembang , makhluk yang aktif. Hewan dan manusia dalam berbuat dan bertindak
selain terikat oleh dua faktor yaitu : yang datang dari luar dan faktor faktor yang terdapat
dalam diri organisme yang bersangkutan. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa motif kekuatan yang
terdapan dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat . Disebut motivasi kalau
orang ingin mengetahui mengapa orang berbuat atau berpelaku kearah sesuatu .
Macam motivasi
dalam suatu
organisasi
dilihat dari perannya ada 2 macam, yaitu positif dan negative. Motivasi positif adalah motivasi
yang menimbulkan
harapan
dan mempunyai sifat menguntungkan / menggembirakan bagi individu,
sedangkan
motivasi negative adalah motivasi yang menimbulkan rasa takut .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar